MAKAN (cerpen)
“Lapar kak.” anak lelaki itu bergelung dibalik selimut. Seorang wanita muda membawakan sepiring nasi yang masih mengepul. Ditangan kirinya, dia menggenggam sebotol kecap dan seplastik kerupuk ikan berwarna putih. “Kerupuknya jangan dihabiskan ya. Sisakan untuk besok.” Anak laki-laki itu mengangguk. “Kalau besok nggak hujan. Mungkin banyak yang beli es bikinan kakak.” Lagi-lagi lawan bicaranya hanya mengangguk. ***** “Jangan dimakan.” Teriakanku ternyata mengejutkan si bungsu. Kue kering ditangannya jatuh, tepat dibawah genangan lumpur berwarna kecoklatan. Matanya menyiratkan pertanyaan. “Kue itu sudah jorok. Nanti kamu sakit perut.” “Tapi aku lapar, Mak.” “Sebentar lagi kita sampai.” ucapku memberi semangat. Jalan yang kami lalui memang agak becek. Hujan berkepanjangan di kota ini menyebabkan genangan air dimana-mana, bahkan, banjir. Seminggu yang lalu, kampung kami di kepung air. Lalu seketika rumah-rumah tergenang termasuk tempat tinggal kami. “Capek Mak.” “Rumah...